Alasan Utama Kenapa Harus Menjadikan Para Ulama Sebagai Panutan


Islam / Wednesday, January 15th, 2020

Pastinya bukan tanpa sebab kenapa Anda harus menjadikan ulama sebagai panutan. Namun untuk memahami itu semua, hal penting pertama yang harus diketahui adalah memahami apa itu ulama?

Namun sebelum mengulasnya lebih jauh, sudah punyakah poster ulama yang Anda idolakan? Jika belum kenapa tidak memesan custom posters ulama yang Anda ikuti. Sebuah poster yang secara konsep hingga desain, Anda dibebaskan untuk menentukannya sendiri.

Pernahkah Anda mendengar istilah kembali ke al-Quran dan Hadits? Bagaimana tanggapan Anda jika mendengar hal semacam itu? Setujukah Anda dengan statement seperti itu? Agar supaya tidak semakin bingung, pantengin terus ulasan tentang pentingnya menjadikan para ulama sebagai panutan.

Arti Dan Makna Ulama

Sebelum menjawab itu semua, penting untuk terlebih dahulu tahu arti dan makna dari ulama itu sendiri. Sebenarnya sebutan ulama pada orang tertentu tidak sekedar yang bersangkutan menguasai disiplin ilmu tertentu. Lebih dari itu, ia juga mempraktikkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari.

Bahkan bisa dikatakan jika tidak semua orang yang menguasai ilmu agama layak disebut alim atau ulama. Selain menguasai ilmu agama, ia harus konsisten, kredibel dan mampu menjadi panutan umat. Hal ini bisa dilihat dari sejarahnya.

Dalam sejarahnya, predikat alim atau ulama ini sering dikaitkan dengan seseorang yang menguasai ilmu di bidang agama. Namun tidak hanya itu saja, secara sosial ia memiliki kelayakan untuk dijadikan sebagai panutan masyarakat. Artinya seseorang tersebut dinilai kredibel dan konsisten dalam mengamalkan ilmu agamanya.

Jika seseorang yang menguasai ilmu agama lantas disebut dengan ulama, maka pemikiran seperti ini akan sangat rancu. Misalnya saja seperti Snouck Hurgronje, seorang orientalis asal Belanda yang dikenal ahli politik imperialis pada era kolonial yang juga dikenal sebagai pembelajar dan menguasai al-Qur’an.

Artinya jika sebutan ulama ini dasarnya hanya ilmu, maka orang semacam Snouck Hurgronje ini sangat layak disebut sebagai ulama. Tetapi faktanya tidak seorang pun yang menyebut Snouck Hurgronje sebagai pribadi yang alim. Apalagi menjadikannya sebagai panutan.

Kenapa demikian? Hal ini dikarenakan Snouck Hurgronje tidak mengamalkan ilmu yang dipelajarinya dan bahkan ia mempelajari al-Qur’an untuk maksud dan tujuan yang berbeda. Artinya Snouck Hurgronje ini tidak menunjukkan adanya konsistensi pada dirinya.

Predikat Alim Atau Ulama

Hal lain yang tidak kalah penting untuk dipahami adalah predikat alim atau ulama. Jika dilihat dalam sejarahnya, predikat alim atau ulama tidak lahir dari rekayasa sosial. Apalagi dimaksudkan untuk kepentingan duniawi maupun pencitraan politik.

Artinya predikat alim atau ulama merupakan status sosial. Dengan demikian bisa dipahami jika predikat alim atau ulama bukanlah jabatan politik maupun gelar akademik produk lembaga atau forum tertentu.

Bisa diambil kesimpulan jika predikat alim atau ulama ini secara alamiah lahir dari rahim sosial. Artinya sebutan ulama bukan dilahirkan atas dasar kesepakatan bersama dalam suatu forum permusyawaratan.

Keutamaan Dan Kedudukan Ulama

Di dalam al-Qur’an sendiri sebenarnya sudah sangat jelas diterangkan seperti apa keutamaan dan kedudukan ulama. Dan beberapa ayat di dalam al-Qur’an yang memberikan gambaran tentang ketinggian derajat para ulama adalah:

  1. Al-Mujadalah ayat 11

Di dalam surat Al-Mujadalah ayat 11 sangat jelas jika Allah SWT akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberikan ilmu (ulama). Artinya dalam surat tersebut sangat jelas diterangkan jika begitu tingginya derajat para ulama.

  1. QS Al-Fatir ayat 28

Di dalam surat Al-Fatir ayat 28 ini sangat jelas diterangkan jika dari sisi jiwa dan karakteristik, ulama adalah orang-orang yang takut kepada Allah.

Sedangkan di dalam hadist Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ibu Hibban menerangkan jika ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak meninggalkan warisan berupa dinar (emas) ataupun dirham (perak). Para nagi hanya meninggalkan warisan berupa ilmu.

Di dalam kitab karangan Imam Al-Ghozali, Ihya’ Ulumuddin disebutkan jika manusia yang paling dekat martabatnya dengan martabat para nabi adalah ulama atau ahlul-ilmi dan mujahidin atau ahlul-jihad.

Alasannya adalah ulama merupakan orang yang menunjukkan manusia kepada ajaran yang dibawa para Rasul. Sedangkan mujahid merupakan orang yang berjuang untuk membela apa yang diajarkan oleh para Rasul.

Sekarang Anda tentunya sudah bisa menilai apakah seseorang tersebut pantas disebut ulama ataukah tidak. Selain itu dari ulasan singkat di atas pastinya Anda sudah sangat paham kenapa Anda harus menjadikan para ulama sebagai panutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *